- Home>
- Sebuah Perjalanan (Sikunir. Dieng, Wonosobo)
Om Edi Akhiles
say " Orang yang banyak tahu dunia akan lebih selow dalam mengarungi
keanekaragaman hidup ini karena selalu sadar bahwa ia hanyalah manusia
bukan Tuhan. " Karena kata - inilah tekatku ke sikunir begitu besar.
Walau kakak yang (mungkin) terlalu khawatir pada adeknya ini ngga
ngebolehin aku untuk berangkat ke sana. Purwokerto - Wonosobo itu cukup
jauh 4jam menggunakan motor, mungkin itulah alasan mengapa aku tak boleh
kesana. Tapi aku punya jurus ampuh, " Masa dede
harus kaya lalat dalam toples kaca. " Ujarku pada kakak, mengcopy
kata - kata Om Edi Akhiles dalam bukunya yang berjudul ' CEO Koplak '
dan setelah berdepat cukup panjang akhirnya aku di bolehin pergi ke
sana. He, jadi intinya trimakasih Om Edi secara gak langsung Om udah
bantu aku ngasih alasan buat bisa pergi ke sikunir.
Rabu, 13 Mei 2015 tepatnya pukul 16.37 WIB Mas Dhika menjemputku dan hal pertama yang dikatakan oleh Mas Dhika padaku adalah " Lah tasnya gede temen An? "
Damn!!! Apa yang aku perkirakan benar terjadi. Malam sebelum berangkat ke sikunir aku udah ngira pasti temen - temen bakal komen, protes atau ngeledekin aku karena tas yang gede ini.
" Iya kiyelah, tapi isine setitik kok. Kur tase tok sing gede. " Jawabku santai.
Sekitar pukul 17.00 WIB aku dan Mas Dhika sampai di Taman Satria, disana udah ada Mas Ipul, Mas Tri juga Mba Yulita. Ya, seperti reaksi Mas Dhika, Mba Yulita tertawa dan bertanya tentang tasku yang besar itu dan aku cuman bisa cengar - cengir kaya kuda. Hampir setengah jam kami menunggu kawan yang lain (Citra, Amin, Dewi, Mba Widi, Mas Angga, Mas Radit) dan setelah kumpul barulah kamiyang berangkat ke Sikunir, kami pilih lewat Purbalingga, karena Mas Yogi sudah menunggu kita di pombensin Purbalingga.Dan selepas maghrib barulah kita melanjutkan perjalanan kami lagi.
Sekitar pukul 21.30 WIB kami baru sampai di home stay. Rasa lelah, lapar dan kantuk ternyata tak membuat kami cepat tertidur, buktinya mata kami masih mendelo sangat lebar. Kami kumpulan anak (calon) programer (somplak) seperti biasa masih saja cekakak - cekikik, guyon sampai larut malam. Dalam hati aku berandai. Jika saja Mas Chrisma dan Candra ikut pasti akan lebih rame jadinya. Mas Chrisma yang khas dengan kata ' Merwul-nya ' dan Candra anak yang doyan kentut sembarangan dan suka ngomong pake kosakata baru (baca aneh) yang bikin kami tercengang. Semoga dilain waktu, jika kita kumpul sama - sama lagi, bersama mereka berdua dan teman - teman yang lain tentunya. Pukul 00.00 WIB lewat beberapa dari kami telah terjaga, termasuk aku salah satunya.
Di sepertiga malam, seperti di rumah aku bangun tanpa di alaram. " Ayok bangun, jere arep manjat!!! " Dan,,, gak ada yang bangun. " Uwis jam loro loh! " dan akhirnya satu persaatu dari mereka bangun. Mas Radit bak ibu rumah tangga, setelah semalam sebelum tidur dia memasak ayam goreng untuk kami dan mencuci semua gerabah bekas makan malam, diapun memasakan mie rebus untuk kami pagi itu. Oh Mas Radit, kesuwun banget yah, aku ora bakal kelalen karo jasamu kue. Hahahhah
Dinginnya Dieng tak sedingin cintamu. Entah mengapa kalimat itu terpikirkan olehku. Yeah, saat dirumah aku memang berdo'a berharap agar bisa menemukan ide untuk menulis kata - kata seperti fiksi mini atau puisi atau ya apa sajalah. Terlebih ada seseorang yang memintaku untuk menuliskan kata - kata dengan bahasa yang estetis untuknya. Tapi... Kuso!!! Bukannya sesuatu yang indah, malah ide untuk menulis galau yang muncul.
Hari itu, Kamis 14 Mei 2015 Dieng benar - benar dingin, aku sampai mengenakan dua jaket tebal dan dua celana panjang tebal agar badanku tak kedinginan. Sepanjang perjalanan kami ngobrol gak jelas, ketawa - ketiwi kaya kuntilanak. Mas Yogi dan Mas Dika sempet ketinggalan di jauh di belakang. Aku dan yang lain berhenti sejenak menunggu mereka berdua sambil melepas lelah.
Sekitar pukul empat kami sampai di puncak, dan betapa terkejutnya aku ternyata sudah banyak orang disana. Seperti kami mereka juga ingin melihat sunrise dari puncak Sikunir. Suara yang bukan sekedar iklan surga itupun berkumandang. Beberapa orang langsung melaksanakan perintah Allah SWT, mereka shalat subuh berjama'ah. Sayang aku yang berhalangan tak bisa ikut berjama'ah bersama mereka.
Lelah dan rasa letih kami akhirnya terbayarkan ketika kami melihat titik mega jingga merekah, bak selendang - selendang yang meliuk indah di langit.
Senyum, itulah ekspresi kebahagiaanku. Aku bersyukur karena Allah telah memberikanku kesempatan untuk hidup dan melihat ciptaanNya yang luar biasa mengagumkan. Dan hal ini membuatku mengerti bahwa bahagia itu sederhana mensyukuri setiap nikmat yang telah Tuhan berikan untukku, sekecil apapun itu. Kau tau mengapa? Karena jika hal kecil saja tak bisa kau syukuri, lalu bagaimana Tuhan akan memberikanmu nikmat yang bersar?
Karena kakimu bisa kau taruh di tempat tertinggi, tapi apakah hatimu bisa kau taruh di tempat terendah? "
Citra dan Dewi mereka tak libur kerja, karena itulah mereka pamit pulang ke Purwokerto duluan. Tadinya kami semua berniat untuk pulang bersama - sama, tapi kata bos Angga biarlah yang lain menikmati liburan, sedang ia dan Mas Radit mengantar Citra dan Dewi pulang ke Purwokerto. Kata bos Angga " Geh, eman - eman. Wis gutul ngeneh masa kur ndeleng sunrise tok. Akeh wisata neng kene, sing urung ndeleng kon pada deleng sit. " Maka, tinggalah kami berdelapan jalan - jalan di kota Dieng ini.
Siang selepas dzuhur barulah kami berkemas - kemas. Dalam perjalanan pulang tanganku memegang kencang jaket yang di pakai Mas Dika kau tau kenapa? Karena aku ingin memejamkan mata. Entah mengapa jika kaca helm kututup bawaannya pengen merem dan ngalamun. " An, jangan tidur loh. Mbok jatuh. Aku lagi ga bisa crita seoalnya kudu fokus mbok nabrak. " Suara Mas Dika membuyarkan lamunanku, semua khayalanku hilang seketika.Tak jadilah aku menguntai kata untuk temanku itu.
Sekitar pukul setengah empat sore aku sampai di rumah dengan selamat. Ibu menyambutku dengan salam dan senyumnya yang khas. " Gimana di sana? Kedinginan Gak? Seneng gak? " Sederet pertanyaan tanpa jeda yang aku yakin akan ditanyakan pula oleh abah dan mamas jika mereka bertemu denganku. " Ya gitu, gak kedinginanlah kan dede pake jaket dobel, celana panjang dobel juga. Ya seneng bu. Besok - besok dede boleh ya naik gunung? " Ibu hanya diam, sepertinya masih banyak yang ia pertimbangkan.
***
" Dinginnya Dieng Tak Sedingin Cintamu. " Mungkin aku akan menulis cerpen dengan judul itu, atau mungkin tidak. Mas Iqbal sodaraku selalu ngecengin aku kalau aku menulis yang galau - galau. " Jembret!!! Jere arep ora nulis galau maning. " Begitulah katanya. " Mending kiye bae judule ' Jembret Menunggu Senja. ' Kue apik. " Kan, kan ngeselinnya dia kumat kan. Awas saja jika aku ke Jogja nanti tak akan lagi kubawakan makanan, biarlah ia menjadi anak kos yang malang.


gilaaak kerenn banget
BalasHapus