Weekly post

  • Posted by : Unknown Selasa, 24 Maret 2015

    Kali ini aku mau cerita tentang kisah hidup aku, lebih tepatnya tentang apa yang aku rasain. Sebelumnya aku gak pernah posting tulisan yang menggambarkan suasana hati aku sendiri kalo toh ada, pasti sebagian dari ceritaku itu hasil khayalan. Biasanya si kalo tulisan beginian cuman aku tulis di kertas lalu setelah selesai menulis aku sobek - sobek kertasnya. Yeah, menulis bagiku salah satu cara untuk mengungkapkan apa yang gak bisa aku ungkapkan lewat mulut.

    Jadi adik dari seorang kakak yang bagiku " membanggakan " adalah suatu kebahagiaan, kebanggan dan juga merupakan suatu beban tersendiri untukku. Bahagia dan bangga, siapa yang gak bangga punya kakak yang (menurutku) pinter, cakep (yang ini rada ogah mengakuinya, tapi begitulah kata teman - temanku), bertanggungjawab, sayang sama keluarga dan yah, masih banyak hal lain yang aku banggakan dari dia meski banyak hal juga yang terkadang (baca sering) membuatku kesal padanya. Mamas yang lulus dengan ipk di atas 3 dan tak lama hanya berjarak satu bulan setelah gelar Sarjana Komputer disandangnya, dia mendapatkan pekerjaan yang alhamdulillah cukup baik, tentulah sudah membuat abah dan ibuku bangga. Mamas juga orang yang gigih dan semangat, dia selalu berusaha keras untuk mencapai apa yang dia inginkan. Dulu waktu mamas masih kuliah, ya awal kuliah mamas tuh keliatan masih suka main - main, tapi semenjak masuk semester akhir dia keliatan banget seriusnya. Dan disitulah aku baru ngerti kalo mamas ternyata sempet kerja freelance buat nambah uang sakunya. Mamas emang jarang minta uang saku (ga kaya aku yang minta uang saku mulu) kalo toh dia dapet uang saku pasti di tabung buat beli sepatu atau tas atau barang apalah (ga kaya aku yang uang sakunya abis buat jajan yang ga ada hasilnya, alias ga nambah berat badanku). Oh ya, aku inget banget senyum Almarhum Mbah Kakung dari abah waktu hadir diacara widudanya mamas. Menurutku itu senyum kebanggaan. Mamas beruntung karena saat dia wisuda mbah masih ada, (sekarang udah ga punya embah lagi, udah meninggal semua) jadi pastilah bisa bikin mbah tersenyum bangga itu jadi suatu kebahagiaan tersendiri.

    Beban. Seharusnya hal ini tak membuatku merasa terbebani, tapi kenyataannya itulah yang aku rasakan. Ada beban tersendiri yang terkadang bahkan sering mengganggu pikiranku. Mamas menjadi tolak ukurku, aku harus bisa seperti dia, membanggakan orangtua dan saudaraku. Terlebih lagi harapan kedua orangtuaku padaku. Abah, beliau mengharapkan aku bisa lanjut S2 bahkan selalu berkata padaku kamu harus S2 harus jadi dosen katanya. Entahlah aku ngga ngerti kedepannya mau bagaimana, sebagian diriku berkata bahwa aku sanggup untuk mewujudkan keinginan abah itu tapi di bagian lainnya aku merasa sedikit ragu. Lebih tepatnya aku merasa takut, takut apabila yang aku rencanakan tak sesuai dengan yang terjadi. Aku percaya bahwa tak ada yang tak mungkin di dunia ini, juga pada keajaiban. Yah, keajaiban yang pasti akan datang jika kita berusaha, berdo'a dan berikhtiar untuk mencapai apa yang kita cita - citakan. Oh ya, ngomong - ngomong soal beban aku tau aku salah jika aku merasa terbebani akan ini, harusnya aku menjadikan ini semua sebagai motivasi agar aku terus melakukan yang terbaik. Kadang aku berpikir jika aku merasa terbebani pastilah mamas juga begitu, bahkan mungkin beban yang dirasakannya lebih besar (dan kulihat memang lebih besar) dari pada aku. Sebagai anak pertama dan cucu pertama dari orang tua abahku tentulah mamas harus bisa jadi contoh yang baik untuk adek - adeknya. Dan aku senang karena selama ini aku melihat mamas membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi contoh baik untuk adeknya. Beban lain mamas adalah menyekolahkanku. Jika aku lulus nanti dan mendapatkan gelar sarjana, abah berharap mamas bisa bantu membiayayi kuliah S2ku (kan tuh beban mamas banyak) dan jika tidak ya aku cari kerja dulu baru kuliah lagi, atau kerja sambil kuliah. Entahlah besok akan seperti apa.

    Cita - cita, harapan dan impian adalah hal yang selama ini terus aku pikirkan. Aku sadar betul bahwa memikirkannya saja tentu tidak akan merubah apapun. Selain berdo'a tentu aku harus berusaha untuk mewujudkannya, berjuang untuk meraih semua itu. Selama ini otakku terus memikirkan hal bagaimana caranya agar aku bisa membuat keluargaku bangga akan aku. Aku merasa selama hampir dua puluh tahun aku hidup di dunia ini belum pernah sekalipun aku membuat bangga orang - orang yang aku sayang, keluargaku. Aku yang sampai sekarang masih saja menyusahkan, jujur aku membenci diriku yang seperti ini. Aku membenci diriku yang belum bisa memberikan apapun untuk mereka. Bahkan wujud kasih sayang juga tak bisa aku berikan. Jangan tanya seberapa besar rasa sayngku pada keluarga, tentulah aku sangat menyayangi mereka. Tapi entah mengapa aku tak pernah bisa untuk menunjukkannya. Aku anak yang cuek, anak yang mungkin benar - benar kelewat cueknya. Tak seperti mamas yang mencium pipi abah dan ibu kalau mau pergi jauh, aku tak bisa melakukannya. Bahkan jika abah atau ibu yang menciumku terlebih dahulu aku sering berkata " udah ah. " Kalian tau gengsi? Ya, mungkin aku terlalu banyak gengsi. (Ku harap perlahan aku bisa membuang rasa gengsiku itu).  Karena itulah aku berharap agar aku segera bisa membuat bangga kedua orangtuaku.

    Aku sadar bahwa aku bukanlah remaja lagi, usia dua puluh taun jelas menunjukkan bahwa kini aku berada dalam masa tumbuh menjadi dewasa. Dewasa bukan berarti hanya usia yang berubah, tetapi juga pemikiran. Teman - temanku sering bertanya padaku, " Kamu target nikah umur berapa? " dan tak seperti temanku yang bisa menjawab dengan pasti dua puluh empat, dua puluh enam dan yah macem - macem jawabannya dan yang pasti mereka punya target gak kaya aku yang cuman bisa jawab " Entah, yang pasti sebelum tiga puluh. Entah juga, aku ga punya target gituan. " Jujur aku tak pernah punya target untuk menikah di usia berapa. Bukan karena aku tidak memikirkannya, tentu aku juga memikirkan akan hal itu tapi rasanya ada hal lain yang harus diutamakan terlebih dahulu. Ya itu tadi, membanggakan orang tua.

    Dua tahun yang lalu, aku inget betul kejadian malem itu saat dimana aku sama Edo sahabatku baru pulang dari asramanya Kiki. Kiki yang waktu itu menawarkan diri buat ngebantu Edo ngebungkus kado buat pacarnya (yang kini jadi mantan) membuat Edo harus dateng ke kosan Kiki buat ambil kadonya itu. Dan yah, sebagai sahabat yang baik (jahat si aku mah) tentulah aku bersedia menemani Edo mengambil kadonya itu. Di jalan entah mengapa pembicaran aku sama Edo jadi rada serius, awalnya si seperti biasa kita selalu gila, cerita tentang hal konyol yang tentunya bikin kita ketawa lalu tiba - tiba Edo ngasih pertanyaan yag menohok bagiku. " Apa kamu gak pengen punya pacar si na? " Jleb, pertanyaan itu membuatku merasa seperti ditujuk beribu jarum. Aku hanya tersenyum, malah aku tertawa. Bukannya jawab pertanyaan Edo aku malah bilang padanya bahwa banyak hal yang belum aku bisa aku raih. Edo memang pintar, dengan pertanyaan barunya, " Apa gak bisa berjalan seiring? " yang membuatku mati kutu.

    Cita dan cinta, aku setuju bahwa keduanya bisa berjalan beriringan (bagi sebagian orang) tapi mungkin tidak bagi diriku. Aku tak mencintai siapapun lagi pula (mungkin) tak ada yang mencintaiku. Menurutku jika kita ingin dicintai maka kita harus mencintai terlebih dahulu. Dan aku ga punya cinta untuk siapapun (kecuali keluarga tentunya, dan sahabat.. Dan lagi, tak ada cinta lebih kepada sahabat selain cinta tulus persahabatan. Ga ada kata pacar - pacaran dengan sahabat pokoknya) bahkan kepada diriku sendiri, (di awalkan sudah aku bilang aku benci diriku yang menyebalkan) mungkin cinta itu ga ada. (Mulai sekarang aku harus mencintai diriku sendiri dengan cara melakukan yang terbaik untuk semua hal yang aku sukai). Pernah aku mencintai seseorang, dia teman kecilku. Kata orang cinta itu hanya cinta monyet, tapi aku rasa itu bukan cinta monyet. Cinta yang bertahan sejak kelas lima sd hingga aku sma, masih pantaskah disebut dengan cinta monyet? Kalian tau, dulu mengingatnya saja sudah membuatku merasa bahagia. Ya, mengingat bagaimana dulu kita menghabiskan waktu bersama, belajar dan bermain bersama. Sejak smp aku gak pernah lagi ketemu sama dia, kalo liat pernah (itupun dari jauh) entah apa yang terjadi hubunganku dengannya tak membaik sejak kelas delapan. Sejak aku tau dia pacaran sama temen sekelasku. Entah kenapa perlahan aku menjauh, mungkin aku tak ingin terluka. Entah apa yang ada di pikiranku saat itu yang pasti aku tak mau berharap lebih padanya. Dan sialnya, jauh darinya malah semakin membuatku rindu dan tak bisa melupakannya. Bak mata - mata, aku adalah stalker yang handal. Aku terus ngestalking facebook, twitter dan yah menanyakannya pada sahabatku yang juga sahabatnya. Hal itu aku lakuin selama hampir tujuh tahun, hebatkan? Oh ya, setiap kali aku ngrasa suka sama orang tau kagum itu ga pernah yang namanya bertahan lama karena pastilah aku teringat akan dia, teman kecilku. Inilah kenapa aku bilang kalo cinta ini ga pantes bila dianggap sebagai ' Cinta Monyet. '

    Banyak air mata timbang senyumnya, banyak galaunya timbang bahagianya kalo aku terus mikirin dia. Aku sadar dan ngerti bahwa itu bukanlah hal yang baik untukku. Aku hidup dimasa sekarang untuk merubah masa depan dan bukan untuk memperbaiki masa lalu, karena itulah aku memutuskan untuk melupakannya dan bersikap biasa aja sama dia. Ini bukan perkara mudah untukku, menghapus seseorang yang berarti dalam ingatan tentulah sulit. Sebelum lulus SMA aku pernah berdo'a minta sama Allah kalau memang dia bukan yang terbaik buat aku, kalau aku emang harus ngelupain dia maka hilangkanlah perasaan aku untuknya dan jika jodohku itu dia maka sabarkanlah aku. Dan teng teng dengan do'a itu perlahan aku bener - bener bisa merasa biasa aja sama dia. Aku kontekan lagi sama dia baru - baru ini dan perasaanku ke dia ga kaya dulu, sekarang kalo chatingan sama dia biasa aja, ga ada rasa apapun. Kalau toh aku masih mengingatnya, semua hanya karena aku ngrasa kangen sama dia sebagai sahabat, sebagai teman kecil yang selalu nyubit tangan aku, yang suka rebutan penghapus waktu kita sd dulu. Udah gitu aja.

    Dan sekarang, hm.. Aku bener - bener ga mikirin yang namanya cinta - cintaan (oke munafik jika aku bilang gini) lebih tepatnya aku mengkesampingkan urusan itu. Ada memang orang yang kini membuatku merasakan cinta (atau mungkin aku paksakan mencintainya?) atau entahlah perasaan apa ini namanya tetapi dia bisa membuatku selalu menunggu kabar darinya, tapi yaa cinta boleh asal logika juga dipake. Cinta harus pake logika dan logikaku berkata bahwa aku tak boleh mencintainya, jadi saat ini aku berusaha untuk menghapus perasaan yang entah apa ini. Lagi pula seperti yang aku katakan tadi ada hal yang harus lebih aku utamakan, membahagiakan orang tua. Aabah yang setiap pagi mencium kengingku dan sering memelukku saat aku tidur (pura - pura ga tau, padahal si belum lelap tidurnya) dan ibu juga yang sering mengusap kepalaku lalu mencium keningku (lagi - lagi aku pura - pura ngga ngerti) serta mamas yang selalu ngomelin aku demi kebaikanku,juga sodara dan sahabat - sahabatku aku harus bisa membuat mereka bangga. Aku harus membuat mereka bahagia. Aku belum bisa mengeseimbangkan antara cita dan cinta, aku tau kelemahanku. Jika sedikit saja perasaanku terluka maka akan mengganggu pikiranku, membuatku lebih sering marah - marah gak jelas, serta membuat aku  tidur terus - terusan. Karena itulah aku mengesampingkan cinta dan memilih cita terlebih dahulu. Aku ingin apa yang aku rencanakan untuk mencapai citaku berjalan sesuai dengan harapanku dan aku tak ingin cinta itu merusaknya.

    Dan, yah inilah curhatan pertama yang aku postingkan.

    0 komentar

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    Yang Berarti Untukku Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan