Weekly post

  • Posted by : Unknown Minggu, 17 Mei 2015

    Someone say to me " Cinta bukan alasan untuk bertindak bodoh, " damn apa yang dikatakannya benar - benar membuatku merasa tersindir, karena kurasa aku sudah terlalu banyak melakukan hal - hal bodoh karena cinta. Hm, sebenarnya akupun tak tau apakah ini cinta atau hanya sekedar rasa kagum saja, yang pasti karena perasaan inilah aku sering bertindak yang menurut pikiranku si ini bodoh, konyol.
    Logika dan perasaan aku heran mengapa mereka lebih sering berbenturan. Jika aku bisa mengendalikan semuanya aku ingin logika dan perasaan bisa berjalan seiring. Mungkin karena keduanya berasaal dari tempat yang berbeda jadi begitu sulit rasanya aku menyatukan keduanya.Hm, entahlah.
    Rindu, tak ada yang salah dengan perasaan itu bukan? Namun bagaimana jika rasa rindu itu ada setiap hari dan ditujukan untuk seseorang yang belum pernah kutemui sama sekali. Nah, disitulah logikaku berkata bahwa hal itu salah. Ya walau bisa dibilang benar jika saja orang itu merupakan publik figur atau cendekiawan, atau siapa sajalah yang bisa dijadikan panutan. Namun pada kenyataannya orang yang aku rindui itu bukanlah siapa - siapa (saat ini) , seperti halnya aku dia hanya orang biasa yang mempunyai segudang impian untuk menjadi luar biasa. Aku mengenalnya dari sosial media, temanku mengenalkanku padanya. Sekali dua kali dia menelponku bercerita tentang banyak hal, dia juga suka bercanda disela - sela pembicaraan kita yang serius. Aku yang pada dasarnya memang suka bercanda tentulah sering dibuatnya tertawa terpingkal - pingkal. Tak jarang akupun sering kesal karenanya, dan bukannya minta maaf dia justru ketawa ketika aku merasa kesal, ngambek ataupun bete. Dan sialnya, tawa itulah yang membuatku selalu merindukannya.Ya, tawa yang terdengar renyah dan bersahabat ditelingaku. Kau tau? Pulsaku habis hanya untuk menelponnya. Ya, awalnya memang dia yang sering menelponku atau memintaku untuk menelponnya, makin kesini tanpa diminta aku yang sering menelponnya. Kurasa tawanya benar - benar telah meracuniku, memberikan efek rindu yang semakin lama ditahan semakin menggerogoti hatiku.
    Dan disinilah logika berkata padaku, " Kamu benar - benar bodoh!! " ya, aku mengakuinya. Aku belum peranah bertemu dengannya sebelumnya, akupun tak tahu bagaimana sifat aslinya, bagaimana sikapnya terhadap orang lain dan akupun belum tau baik buruknya tak seharusnya aku begini, merasakan rindu dan merasakan perasaan aneh yang mungkin itu cinta.
    Logika selalu menegaskan pada diriku untuk segera mengucapkan selamat tinggal padanya, tapi hati tak pernah menginginkan itu terjadi. Aku pernah mencoba untuk tidak membalas pesan darinya, ya untuk beberapa hari logika berhasil membuatku menjauh darinya namun di hari berikutnya? Tetap hatilah pemenangnya, aku yang terbiasa mengabari dan dikabari olehnya kembali menulis pesan singkat untuknya. Pesan singkat yang menggambarkan betapa aku sungguh merindukannya. Hari ini, masih sama seperti kemarin dan hari - hari sebelumnya, aku begitu merindukannya. Tapi, kali ini aku ingin logika menjadi pemenang selamnya. Aku bertekat untuk tidak menghubunginya lagi sampai perasaan aneh ini benar - benar hilang dari hatiku.
    " Dek, hpmu bunyi itu! " Triak ibuku dari ruang keluarga.
    Dan betapa terkejutnya aku, ternyata satu pesan dari dia, Mau telpon?  tanpa pikir panjang kutekan tombol hijau itu, ya aku menelponnya. Hati, lagi - lagi kaulah pemenangnya. DAMN!!!

    0 komentar

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    Yang Berarti Untukku Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan