Kuucapkan " Trimakasih " untuk Kalian yang Telah Membenciku,
Mencintai atau dicintai? Membenci atau dibenci? Semua itu pilihan kita yang menentukan. Untuk mencintai kita perlu hati yang lapang untuk meneriba kenyataan, kenyataan bahwa cinta kita terbalas atau bertepuk sebelah tangan. Dan kita perlu mencintai terlebih dahulu agar kita bisa dicintai. Ya, mencintai terlebih dahulu maksudnya adalah kita perlu mencintai diri kita sendiri dengan baik, agar nantinya jika ada seseorang yang mencintai kita, kita bisa memperlakukannya dengan baik pula. Apalah artinya kita mencintai seseorang jika kita tak bisa mencintai diri kita sendiri. :D
Membencipun adalah sebuah pilihan, orang yang membenci orang lain berarti dia memiliki rasa sakit hati atau kecewa yang teramat dalam. Rasa gundah, gelisah yang disebabkan oleh orang lain membuat dirinya membenci orang tersebut. Bukan hanya membencinya saja, tetapi semua hal yang berkaitan dengan dia yang dibenci. Dibencipun adalah sebuah pilihan, bagaimana bisa dikatakan sebagai sebuah pilihan? Karena sebenarnya orang yang dibenci mempunyai kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Menjalin hubungan baik dengan orang yang membencinya. Tapi, terkadang banyak orang lebih memilih untuk dibenci dari pada harus memperbaiki hubungan dengan orang yang membencinya itu. Kebanyakan orang lebih memilih untuk bersikap " Masa Bodo " terhadap pada orang yang membencinya. " Hidup - hidupku, terserah aku mau bagaimana. " Yaa, begitulah sekiranya.
Aku sendiri? Untuk saat ini aku lebih memilih untuk mencintai dan dibenci tentunya. Aku lebih memilih untuk mencintai diriku sendiri, belajar mencintai diriku sendiri dengan sempurna tentunya. Juga mencintai orang - orang yang berarti untukku. Seperti keluarga, saudara dan tak ketinggalan sahabatku. Mereka orang - orang yang memutuskan untuk tetap tinggal, menerima bukan hanya kelebihanku saja tetapi juga kekuranganku. Mereka yang banyak mengajariku tentang arti hidup dan kehidupan, mengajarkanku akan pentingnya sebuah keikhlasan dan kesabaran. Mereka juga, orang yang aku yakin menyayangiku seperti aku menyayangi mereka. Aku pernah membenci orang lain, bukan hanya sekali mungkin berkali - kali. Aku membenci orang - orang yang bersikap tak sama. Orang yang omongannya tak sesuai dengan tindakannya. Orang yang mungkin sempat melukiskan kenangan indah dalam perjalanan hidupku, lalu mencoretnya dengan satu, dua kebohongan yang ternyata menjadi beribu - ribu kebohongan. Dan apa kalian tau? Membenci itu sangatlah tidak enak, hati selalu gelisah, inginnya membalas semua rasa sakit hati dan rasa kecewanya. Dan karena membenci itulah bisa merubah sikap kita, menjadikan kita lebih buruk. Karena itulah, aku tak mau lagi membenci. Karena membenci hanya membuat rasa sakit itu semakin menjadi, karena luka yang belum sepenuhnya sembuh akan semakin menjalar jika kita memutuskan untuk membenci. Nasi sudah menjadi bubur, mungkin itu pribahasa yang tepat untukku. Dan kini, jika orang yang kubenci balik membenciku disaat aku sedang belajar untuk melupakan rasa sakitnya, melupakan kenangan indah dan pahitnya serta melupakan semua tentangnya aku menerimanya. Aku tak akan memutuskan untuk kembali membencinya. Aku akan tetap seperti ini, bersikap seolah - olah memang tak ada hal yang terjadi di antara kita. Membuka lembar baru, bersenang - senang dan tentunya bersyukur. Aku bersyukur jika ada orang yang membenciku.. Aku bersyukur karena dengan adanya orang yang membenciku maka aku bisa belajar untuk ikhlas dan menerima kebencian itu. Dan jika aku dibenci orang lain, aku juga merasa bahagia. Karena apa? Karena kebencian dari seseorang itu merupakan semangat untukku. Semangat agar bisa membuktikan pada orang - orang yang membenciku, pada orang - orang yang menyakitiku bahwa suatu hari nanti aku bisa jadi bisa lebih baik. Aku membuktikan bahwa aku tak seburuk apa yang orang lain pikirkan. Membuktikan bahwa aku baik - baik saja, aku bisa dan harus bahagia aku bisa lebih baik dan bisa sukses walau dibalik itu semua da orang yang membenciku.
Untuk kita semua, aku sarankan untuk mengucapkan banyak terimakasih pada orang - orang yang telah membenci kita, yang memandang kita sebelah mata karena berkat orang tersebut kita jadi memiliki berjuta - juta semangat. Semangat untuk membuktikan bahwa kita, orang yang mereka benci tak menjadi lemah karena kebencian yang diberikannya itu, justru kita menjadi lebih kuat dan lebih bersabar.
:D
Cinta Diam - Diam
Cinta datang tanpa kita tau hadirnya, seperti yang saat ini
sedang aku rasakan karena Rian. Rian sahabatku, entah sejak kapan aku
mencintainya yang pasti aku selalu cemburu saat dia dekat dengan
perempuan lain. Aku ingin, hanya aku satu - satunya perempuan istimewa
dihatinya. Tentu setelah bidadri surganya, ibu yang telah merawatnya
sejak kecil. Aku tak tau apa yang
membuatku begitu mencintai Rian, yang pasti aku selalu merasa bahagia
jika dia ada di dekatku. Sebenearnya aku sudah tidak kuat menahan
perasaan ini, aku lelah mencintainya diam - diam. Aku ingin Rian tau
bahwa aku mencintainya, menyayanginya lebih dari sekedar sahabat. Tapi?
Aku takut kejujuranku itu malah akan membuatnya jauh dariku.Aku belum
siap jika itu benar terjadi. Mungkin memang lebih baik saat ini aku
simpan rasa cintaku, samapi nanti tiba waktunya aku ungkap semuanya.
" Hi Key, kamu lagi nulis apa? " Tanya Rian mengagetkanku.
" Eh? Bukan apa - apa kok Ian. " Jawabku panik.
" Surat cinta buat pangeran khayalanmu itu yah? "
" Ngaco. "
" Hahaha, kirain. "
" Sejak kapan kamu disini? Kok aku ga tau. "
" Hm, kamu terlalu asik sama bukumu yang gak jelas itu si. Udah dari tadi, ya sekitar setengah jamanlah. " Ucapnya sambil mengambil kue coklat yang ada dimeja. " Aku penasaran, sebenernya kamu tuh nulis apa si? "
" Apa aja boleh, kepo amat si kamu. " Ejekku. " Eh, mau minum apa kamu? Nanti aku ambilin, ice teh, ice jeruk? kopi? susu? sok mau apa. mumpung aku lagi baik nih mau nyebuatin minuman buat kamu. "
" Kopi deh, jangan pait - pait ya. "
" Oke sip. Tenang aja, kalo pait kan ada aku. Liat aja aku, pasti kopinya langsung manis . " Ujarku tersenyum.
" Hadeh, liat kamu mah tambah pait. "
" Jahatnya. Oke aku tinggal benar ya, kue coklatnya jangan di abisin loh. " Pesanku pada Rian.
***
Keagungan senja tersaji di hadapanku
Menciptakan lamunan tentangmu
Kata andai mulai terjabar dalam benak ini
Andai kau tau perasaanku
Andai kau tau betapa aku mencintaimu
Andai semua yang aku impikan menjadi nyata
Aku dan kamu,
Kita
Kita yang aku harap bisa saling mencinta,
saling menyayangi, dan melengkapi.
Namun, andai hanyalah andai.
Sebuah kata tanpa makna,
Sebuah kata yang hanya membuatku terluka
Karena kata andai hanya bisa memuatku berharap
berharap andai saja Rian mencintaiku,
seperti aku yang mencintainya.
Jadi selama ini Keyra mencintaiku? Ya, Tuhan mengapa aku tak pernah menyadarinya?
“ Ini kopinya Ian. “ Seruku
Rian hanya diam, sepertinya dia tak mendengar perkataanku.
“ Ini kopinya Ian “ Ulangku “ Semuanya jadi sepuluh ribu ya. Hehehe “
“ Eh, makasih ya Key. “
“ Oke, sama – sama. Janagn lupa, bayar sepuluh ribu. “ Candaku.
“ Hm. Key, aku mau nanya sesuatu boleh? “
“ Ya, tanya aja. “ Jawabku santai.
“ Apa pangeran khayalanmu itu aku? “
Mengapa tiba – tiba Rian bertanya seperti itu padaku? Buku biru itu? Mengapa ada di tangannya? Apa dia telah membacanya? Ya Tuhan, aku harus menjawab apa? Apakah ini saatnya aku mengungkapkan rasa cintaku padanya?
" Hi Key, kamu lagi nulis apa? " Tanya Rian mengagetkanku.
" Eh? Bukan apa - apa kok Ian. " Jawabku panik.
" Surat cinta buat pangeran khayalanmu itu yah? "
" Ngaco. "
" Hahaha, kirain. "
" Sejak kapan kamu disini? Kok aku ga tau. "
" Hm, kamu terlalu asik sama bukumu yang gak jelas itu si. Udah dari tadi, ya sekitar setengah jamanlah. " Ucapnya sambil mengambil kue coklat yang ada dimeja. " Aku penasaran, sebenernya kamu tuh nulis apa si? "
" Apa aja boleh, kepo amat si kamu. " Ejekku. " Eh, mau minum apa kamu? Nanti aku ambilin, ice teh, ice jeruk? kopi? susu? sok mau apa. mumpung aku lagi baik nih mau nyebuatin minuman buat kamu. "
" Kopi deh, jangan pait - pait ya. "
" Oke sip. Tenang aja, kalo pait kan ada aku. Liat aja aku, pasti kopinya langsung manis . " Ujarku tersenyum.
" Hadeh, liat kamu mah tambah pait. "
" Jahatnya. Oke aku tinggal benar ya, kue coklatnya jangan di abisin loh. " Pesanku pada Rian.
***
Keagungan senja tersaji di hadapanku
Menciptakan lamunan tentangmu
Kata andai mulai terjabar dalam benak ini
Andai kau tau perasaanku
Andai kau tau betapa aku mencintaimu
Andai semua yang aku impikan menjadi nyata
Aku dan kamu,
Kita
Kita yang aku harap bisa saling mencinta,
saling menyayangi, dan melengkapi.
Namun, andai hanyalah andai.
Sebuah kata tanpa makna,
Sebuah kata yang hanya membuatku terluka
Karena kata andai hanya bisa memuatku berharap
berharap andai saja Rian mencintaiku,
seperti aku yang mencintainya.
Jadi selama ini Keyra mencintaiku? Ya, Tuhan mengapa aku tak pernah menyadarinya?
“ Ini kopinya Ian. “ Seruku
Rian hanya diam, sepertinya dia tak mendengar perkataanku.
“ Ini kopinya Ian “ Ulangku “ Semuanya jadi sepuluh ribu ya. Hehehe “
“ Eh, makasih ya Key. “
“ Oke, sama – sama. Janagn lupa, bayar sepuluh ribu. “ Candaku.
“ Hm. Key, aku mau nanya sesuatu boleh? “
“ Ya, tanya aja. “ Jawabku santai.
“ Apa pangeran khayalanmu itu aku? “
Mengapa tiba – tiba Rian bertanya seperti itu padaku? Buku biru itu? Mengapa ada di tangannya? Apa dia telah membacanya? Ya Tuhan, aku harus menjawab apa? Apakah ini saatnya aku mengungkapkan rasa cintaku padanya?
Lagi dan Lagi, Aku Merasa Dunia Ini Sempit
Sekitar satu tahun yang lalu aku mengikuti seminar kepenulisan di Taman Budaya Yogyakarta. Disana aku melihat seseorang yang entah mengapa begitu menyita perhatianku. Mungkin karena dia memakai baju bermotif kotak - kotak, baju yang identik dengan Pak Jokowi, salah satu orang yang aku kagumi. Semenit, dua menit dan kurasa cukup lama aku memandangnya. Sesekali saat dia menoleh kebelakang ke belakang kuperhatikan mata dan senyumnya. Ramah, itulah kesan pertama yang dia torehkan di benakku. Aneh memang jika aku berasumsi bahwa dia orang yang ramah karena saat itu kita tak saling sapa. Ya, bagaimana kita akan saling sapa? Aku melihatnya tapi aku rasa dia tak melihatku yang duduk jauh di belakangnya. Seminar kepenulisan itu sungguh menyenangkan. Aku mendapatkan banyak ilmu, motivasi dan juga teman baru. Aku berharap suatu hari nanti aku bisa bertemu lagi dengan mereka, termasuk dia, orang yang memberikan kesan ramah padaku.
Belum lama ini aku berkenalan dengan seseorang di facebook. Dia memiliki hobi yang sama sepertiku. Membaca, menulis dan tentunya berkhayal. Bisa bayangkan jika dua orang atau lebih memiliki hobi yang sama pasti akan nyambungkan kalau cerita? Nah begitulah yang aku rasakan saat chating dengannya. Obrolan kita gak bakal jauh - jauh dari buku dan tulisan. Serta harapan dan impian kita yang ternyata juga sama. Kita sama - sama pengen jadi penulis. Dan bukan hanya sekedar penulis biasa tetapi penulis yang bisa menginspirasi banyak orang.
Hampir sebulan aku mengenalnya dan hampir sebulan juga kita sama - sama berjuang untuk meraih harapan dan impian kita. Kwnapa aku bilang sama - sama? Karena saat rasa malas untuk nulis itu datang (lebih sering datang padaku) kita saling memberikan semangat. Dan kalian tau? Selama itu pula aku baru tau kalau dia juga ikut acara seminar kepenulisan di Taman Budaya Yogyakarta itu. Jadi artinya? Tanpa kita sadari, kita pernah bertemu atau setidaknya saling melihat. Dan betapa bodohnya aku karena aku baru menyadari kalau dia mirip dengan orang yang menyita perhatianku, orang mengenakan baju kotak - kotak saat setelah dia bilang kalau dia pernah ikut acara seminar kepenulisan itu. Spontan aku bertanya padanya " Mas, yang waktu acara kepenulisan itu pake baju kotak - kotak bukan? "
"Iya, aku pakai baju kotak - kotak de. " Balasnya disertai foto dirinya saat mengenakan baju kebangsaan Pak Jokowi di acara seminar itu.
Aku tersenyum lalu tertawa. " Dunia sempit atau memang tidak luas? " Ya, dia. Orang yang pernah aku lihat di acara seminar itu.
Jenius atau Tolol?
Hai sobat, lo pasti pada kangenkan sama gue? Galau ya lama ga baca tulisan gue? Sekarang kalian ga perlu galau lagi, karena dengan datangnya tulisan ini di fb kalian akan membantu meringankan kerinduan kalian sama gue. :D
Sebelumnya gue mau crita sedikit tentang diri gue. Hm, lo pasti udah kenal gue kan? Nama gue Analis Hasby Azizah. Gue adalah seseorang yang paling kalem, paling lembut dan paling pendiem ( sebelum kenal sama sobat - sobat gue yang gila ) di sekolahan.
Oke langsung aja, disini gue mau bahas tentang pemikiran jenius (baca tolol ) sobat – sobat gue. Oh ya, gue lupa, sebelumya gue mau kenalin dulu sahabat – sahabat gue. Mereka adalah orang – orang yang ga pernah ada hentinya mengocok perut gue. Kiki ; Denada ; Astri ; Dewi ; Edo ; Ogy ; Inu ; Pikki ; dan Dimas.
Seperti yang kita tau, Indonesia sekarang lagi banyak kena musibah. Korupsi yang ga ada henti – hentinya, bencana alam yang juga bikin negeri kita tercinta itu makin lumpuh aja. Baru – baru ini banjir melanda ibu kota Indonesia, Jakarta. Seperti tahun – tahun sebelumnya, banjir itu masih saja menjadi momok menakutkan utama bagi warga Jakarta.
Di saat angin puting beliung melanda di daerah gue, tiba – tiba otak gue kesetrum dan akhirnya munculah berbagai pertanyaan yang bikin gue panas dingin. Tiba – tiba gue kepikiran tentang gimana yah caranya biar banjir itu ga lagi melanda nrgeri kita tercinta? Gimana caranya kita bisa menghindari banjir? Gue sempet mikir, mungkin ada baiknya kalo kita tuh punya pintu kemana saja atau mesin waktu? Jadi di saat banjir melanda kita bisa ngumpeke masa 1000 tahun yang lalu. (--“)(“--)
“ Loe kenapa pas? “ (sial gara-gara inu gue di panggil kapas). Tanya Upil ( Edo ) yang tiba – tiba dateng dan memecahkan lamunan gue ( Kaya Jailangkung, datang tak di jemput, pulang tak di antar ).
“ Ga papa, gue cuman mikir gimana caranya biar masalah – masalah di negeri kita tercinta ini bisa di terselesaikan. “ Jawab gue dengan senyum selebar yang gue bisa.
“ Kaya loe sering mikir aja. “
“ Ya sekali - sekali biar gue keliatan cerdas. “ Ujar gue nyengir.
“ Okeh, gue mikir juga. “ Kata upil dengan tampang kaya bang dika di cover marmut merah jambu. “ Hm,, nih bray. Pure it kan bisa ngejernihin air keruh tuh. Nah, kenapa Indonesia gak kerjasama sama perusahaan pure it dan bikin yang gede trus di taruh di kali ciliwung? Kan jadi bersih tuh aernya. “
“ Hello,, trus abis itu aernya lo minum gitu? Lo buat berenang, trus nyuci baju di sana juga? Gue si tetep ogah. “
“ Ya kaga gitu juga kali pas,, seenggaknya kan aernya jernih gitu. “
“ Nek kaya kue tah ngetekna duwit akeh. “ Kata Ale ( Dimas ) menimpali. “ Koe ora mandang temen, Indonesia kueh duwe utang akeh. “
“ Trus jadi, gimana solusinya? “ Gue makin bingung.
“Indonesia mbok teyeng nyetak duit, gari gawe duit se akeh akehe, trus duite di kursna ming dolar trus utange di lunasi, beres. ko ngerti bencana neng indonesia? “
“ Iyalah gue tau le, kenapa – kenapa? Loe punya solusi buat nyeleseinnya? “ Tanya gue penuh semangat.
“Gari pemerintah nyetak duit se akeh akehe, trus kabeh wong sing kena bencana di weini duit 100juta bae lah se keluarga, telih gampang. “
“ Matamu. Segampang itukah nyetak duwit? Duwit monopoli si akeh pak pak. “
“ Ya kenalah karo duwit monopoli sing gampang di cetak. “
“ Masalaeh ora payu pak. “
“ Hm..., eh. Menurute aku yah pemerintah kue berlebihan, ko ngerti ra, pemerintah ndanani duit 2m apa pira wingi, mung nggo nyebar uyah neng awan, kon dadi jakarta udane menurun, kue bodo apa ra? ya sih bener kue usaha, tapi wong jenenge be udan, kan sing nduwur sing ngerteni mbok, walopun arep di sebar uyah se akeh akehe, nek masyarakate mbuang sampah esih neng kali, ya tetep bae banjir mbok? “
“ Haha iya bener pak. Wah koe hebat.. “
“ Terus jere, ibukota ne arep pindah, ora usah susah susah bingung pindahe, gari mindahna papan selamat datang ibu kota ne bae sing di pindah purwokerto . ngko dadi purwokerto ibu kota indonesia. “ Kata ale di iringi dengan tawanya yang khas. ( Khas mau mulutnya, dia pasti belum sikat gigi ). >,<
Hzzz (“--)(--“) begitulah kira – kira pemikiran sobat gue yang gila, jenius bukan? Jenius atau tololkah? Karena sebenernya jenius sama tolol itu beda – beda tips. Yang pasti orang jenius sama orang tolol itu sama, sama – sama gila karena memikirkan apa yang terkadang gak harus di pikirkan.
Hm, itulah sedikit cerita antara gue dan sobat gue yang gak pernah waras. Untungnya gue cuman bahas ini sama upil sama ale, kalo bahas ini sama semuanya? Mampus! Bisa – bisa gue beneran gak bisa lagi jadi orang waras.
Cukup sekian perjumpaan kita kali ini, Nalis Raditya Nasution ( jangan protes ) undur diri. Selamat pagi, sing, sore, malam. Terimakasih dan sampai jumpa.
Langganan:
Postingan (Atom)
0 komentar